.

1. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "tidaklah seorang hamba menutupi aurat ( kekurangan/aib ) orang lain di dunia kecuali Allah menutupi auratnya ( aibnya ) di akhirat " HR. Muslim

2.Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : muslim ( orang Islam ) adalah saudara bagi orang Islam lainnya, dia tidak menganiayanya dan tidak pula menyerahkannya kepada musuhnya ( tidak juga meninggalkannya tanpa pertolongan ), barangsiapa menolong saudaranya untuk memenuhi hajatnya, maka Allah bersamanya dalam memenuhi hajatnya, dan barangsiapa melapangkan suatu kesusahan dari seorang muslim, maka Allah akan melapangkan baginya suatu kesusuhan dari kesusahan di hari qiamat, dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah menutupi aibnya di hari qiamat. HR. Muslim.

3. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam naik ke atas mimbar, lalu memanggil dengan suara yang tinggi : wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke hati mereka, janganlah menyakiti orang-orang yang beriman, janganlah mencela mereka, dan janganlah mencari-cari aurat ( aib ) mereka, karena barangsiapa mencari-cari aib saudaranya yang muslim, maka Allah membuka aibnya dan memalukannya walaupun dia berada di dalam rumahnya. HR. Tirmidzi.

Keterangan
Allah 'Azza wa Jalla cinta untuk menutupi aib makhluk-Nya, dan memerintahkannya ( menutupi aib orang lain ), oleh karena itu Allah mengharamkan tindakan mata-mata dan melarangnya, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memberitahukan bahwa siapa saja yang menutupi aib seseorang, maka Allah menutupi aibnya di hari kiamat, dan melarang mencari-cari aib kaum muslimin dan tindakan memata-matai mereka tentang pekerjaan yang mereka sembunyikan.

Kandungan hadits-hadits di atas :
1. Keutamaan menutupi aib kaum muslimin, dan hal itu adalah salah satu sebab agar Allah menutupi kekurangannya di hari kiamat.
2. Larangan untuk mencari-cari aib kaum muslimin dan memata-matai mereka.
3. Sangsi bagi mereka yang melakukan hal tersebut ( mencari-cari aib orang lain ), bahwa Alllalh akan memalukannya dan menampakkan bagi manusia aibnya yang dia tutup-tutupi.
(Diterjemahkan dari buku Durus Yaumiyyah, Rasyid bin Husain al-Abd Al-Karim, hlm. 351-352)



Mereka menyebut negeri ini negeri bertuah. Negeri Raja-raja yang bersekutu menyatukan jajahannya dan menjadikan kerajaan ini sebagai tanah Diraja. Kalau orang Indonesia mendengar hal ini mungkin akan marah dan menyebutnya Malingsia!

Tapi tahukah Anda, negeri ini betul-betul negeri bertuah bagi sebagian orang. Puluhan ribu atau bahkan jutaan orang berbondong-bondong datang dari penjuru negeri Bangladesh , Nepal , Filipina bahkan Tibet untuk mengais ringgit. Dan tidak sedikit dari kita yang juga terdampar ke negeri ini.

Saudara-saudara kita dari pelosok desa dan dusun, di ujung pantai atau di puncak bukit yang datang ke negeri ini untuk mengadu nasib. Mencari sebentuk rizki yang Allah sembunyikan di tanah Melayu ini.Yang datang berkerumun bukan hanya saudara-saudara kita yang berbekal ijazah SD atau SMP. Banyak juga mereka datang dengan menyodorkan ijazah Doktor bahkan Professor.

Sedih memang kalau mengetahui bagaimana para TKI intelektual ini sampai “menjual” otaknya dan tidak mengabdikan ilmu yang diperoleh kepada bangsa dan negara. Bukan karena tidak ingin berbakti, tapi karena mereka “ditolak” di negeri sendiri. Ada seorang kawan yang putus asa sudah berkali-kali melamar pekerjaan sebagai dosen tapi ditolak. Bukan karena tidak memenuhi persyaratan, tapi karena ijazahnya S3 sedangkan yang dicari master. Aneh memang. Sepatutnya dengan ijazah yang lebih tinggi negara tidak akan mengeluarkan anggaran lagi untuk menyekolahkan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Penghematan yang tidak sedikit kan? Tapi logika itu ternyata tidak berlaku.

Ada juga seorang doktor yang lelah menawarkan diri dari pulau ke pulau di penjuru Nusantara agar ilmunya bisa diamalkan bagi negeri tercinta. Tapi ditolak. Dan ditolak lagi. Akhirnya larilah ia ke negeri paling Selatan benua Asia ini. Seorang Professor yang sudah bertahun-tahun tinggal di Tanah Melayu ini ingin pulang membagi ilmu dan pengalamannya ke Jawa tapi tidak diterima karena tidak ada posisi yang tepat untuk kapasitasnya sebagai cendekiawan.

Jadilah kami di sini. Meninggikan dan mengharumkan nama para Raja dan Sultan sedangkan dalam hati kecil kami yang paling dalam selalu ada rasa bersalah. Karena seharusnya kebanggaan itu adalah milik Negeri Zamrud Khatulistiwa.

Negeri kita jauh lebih kaya alamnya. Lebih kaya dalam hal manusianya, baik jumlah maupun mutunya. Tanah air kita kaya budaya,melimpah warisan leluhurnya dan penuh dengan kreativitas. Tapi kenapa susah sangat untuk mencari jalan berbakti. Kenapa untuk sekolah tinggi kalau tak punya duit jangan pernah bermimpi atau berharap? Sedangkan disini ada kawan yang dari S1 sehingga S3 nya dia biayai dengan berdagang ala kadarnya?

Apakah memang negeri ini Negeri Bertuah?Atau sebenarnya tanah air kitapun bertuah. Hanya saja tuah itu sudah pergi ketika ketaatan padaNYA pun ikut pergi. Mungkin tuah yang Allah berikan pada kampung halaman kita ikut terbang tinggi bersama kejujuran dan kebaikan yang ikut terbang bersama asap hutan yang dibakar tangan-tangan tak bertanggungjawab. Tuah itu meninggalkan kita seiring kita sendiri yang meninggalkan iman dan hati nurani kita.

Wallaahu a’lam.

Ummu Unaysah



Khatirah ruhmaniyah (ruhmaniyah berasal dari Rahman), adalah seluruh lintasan pikiran yang berisi kebaikan dan hal-hal utama. Seperti menuntut ilmu, amar ma’ruf dan nahi mungkar, shadaqah dan lainnya. Kedua, khatirah syaithaniyah, kebalikan yang pertama, lintasan pikiran syaitan yang isinya selalu kekejian dan kemungkaran belaka. Sedangkan nafsaniyah, adalah lintasan pikiran yang terjadi saat seseorang bermimpi.

Perhatikanlah ungkapan Ibnul Qayyim, "Lintasan-lintasan itu memang kompleks karena dia berada dalam ruang kebaikan atau keburukan. Dari lintasan pikiran (khatirah) itu lahir keinginan (iradah), lalu himmah (kecenderungan) , dan azimah (tekad). Orang yang sejak awal mampu mengendalikan lintasan pikirannya, berarti ia mampu mengendalikan jiwa dan menundukkan hawa nafsunya. Tapi orang yang dikendalikan oleh lintasan pikirannya, berarti jiwa dan nafsunya yang lebih kuat. Siapapun yang menganggap enteng lintasan pikiran, niscaya lintasan pikiran itu akan menyeretnya pada kehancuran…"

(Al JawabAl Kaafi, 198- 199).



Dari sebuah artikel menarik tentang technik berburu monyet di hutan-hutan afrika. Caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cidera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet-monyet itu akan di gunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.

Cara menangkapnya cukup sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah di beri aroma. Tujuannya, agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples itu di tanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.

Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tinggal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak didalam botol. Kok, bisa? Tentu kita sudah tahu jawabannya.

Monyet2 itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada didalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya selama mempertahankan kacang itu, selam itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet2 itu tidak akan dapat pergi kemana-mana.

Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenarnya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri. Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita menggenggam setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet menggenggam kacang.

Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada dalam dada. Kita sebenarnya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.

Kawan, sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamt jika mau membuka genggaman tangannya.

Dan, kita pun akan selamat dari penyakit hati jika sebelum tidur kita mau melepas semua “rasa tidak enak” terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita. Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya dengan senyum. Dan, kita pun tahu surga itu di peruntukkan bagi orang2 yang hatinya bersih.



Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.
“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.
“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri .
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”
Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya”. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”
Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.