.

Da’i dan mujahid Islam terkenal, Imam Hasan al Banna mengatakan, "Ikhlas itu kunci keberhasilan." Menurut Al-Banna, para salafushalih yang mulia, tidak menang kecuali karena kekuatan iman, kebersihan hati dan keikhlasan mereka. "Bila kalian sudah memiliki tiga karakter tersebut, maka ketika engkau berpikir, Allah akan mengilhamimu petunjuk dan bimbingan. Jika engkau beramal, maka Allah akan mendukungmu dengan kemampuan dan keberhasilan…".

Al-Banna begitu serius memandang masalah ini, sehingga setelah kalimat tadi, ia mengatakan, "…. Tapi bila ada di antara kalian yang hatinya sakit, cita-citanya lumpuh, diselimuti oleh motif sikap egois (tanda tidak ikhlas), masa lalunya pun penuh masalah, maka keluarkan ia dari barisanmu! Karena orang seperti itulah yang akan menghalangi rahmat dan taufik Allah. "(Al-Awai’q, Muhammad Ahmad Rasyid).

Hasan al Banna tidak berlebihan. Karena, orang yang tidak ikhlas umumnya tidak selamat dalam perjalanannya. "Innama yata atsaru man lam yukhlish," Hanya orang yang tidak ikhlas yang akan tergelincir. (Shaidul Khatir, 355)

Dengan keikhlasan… kita jadi tak mudah diperdaya oleh nafsu. Dan itulah nikmat yang hanya dirasakan para mukhlishin. Seperti yang tertuang dalam untaian nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah, bahwa mengutamakan kelezatan iffah (menjaga diri dari perbuatan durhaka), lebih lezat daripada kelezatan maksiat. Dalam kesempatan lain ia mengatakan, "Rasa sakit yang ditimbulkan oleh mengikuti hawa nafsu, lebih dahsyat daripada kelezatan yang dirasakan seorang karena memperturutkan hawa nafsu."

Sampai akhirnya kita benar-benar meresapi perkataan salafushalih yang dikutip Syaikh Ahmad Muhammad Rasyid dalam al Awa’iq, Fi quwwati qahril hawa ladzah, taziidu ‘ala kulli ladzah," berusaha sekuat tenaga menekan hawa nafsu itu adalah kelezatan. KELEZATAN di atas segala KELEZATAN.
Wallahu’alam.

Sumber : Lentera Kehidupan

0 Response to 'Kelezatan Di atas Kelezatan'

Post a Comment